Pernah sakit untuk alasan yang nggak jelas? Dokter sudah kasih banyak resep, tapi kok pusing di kepala nggak hilang-hilang juga. Malah sampai migrain segala! Uhuhuhu… Masih remaja kok sudah sampai migrain? Ups, jangan buru-buru ambil kesimpulan secepat itu. Sebab bisa jadi yang salah bukannya tubuh kita, tapi malah jiwa kita! Tubuh dan jiwa: soulmate banget!
Sudah banyak penelitian dilakukan para ahli, yang kesemuanya menunjukkan adanya hubungan yang erat antara tubuh fisik dengan jiwa. Ibarat sebuah kesatuan, ketika terjadi sesuatu pada fisik kita, ternyata berpengaruh besar terhadap jiwa kita. Makanya, sering banget terjadi kasus dimana sebuah penyakit psikologis dapat memicu munculnya penyakit fisik, atau sebaliknya.
Oleh para ahli, penyakit atau gangguan seperti ini biasa disebut dengan istilah psikosomatis. Psiko berasal dari bahasa Yunani, psyche, yang artinya jiwa; sementara soma berarti tubuh atau raga. Oleh American Psychiatric Association, gangguan psikosomatis didefinisikan sebagai sebuah gejala fisik yang nggak bisa sepenuhnya dijelaskan oleh kondisi medis.
Dari yang ringan, sampai berat
Psikomatis bisa terwujud dalam berbagai kondisi. Mulai dari yang simpel banget, sampai yang berat dan membutuhkan penanganan bersama antara psikolog atau psikiater serta dokter.
Contoh yang simpel, misalnya, saat kita sedang mengikuti ujian di sekolah. Lagi asyik ngerjain tugas, guru pengawas memberi pengumuman bahwa lembar ujian sudah harus dikumpulkan lima menit lagi. Wah, panik berat! Nah, coba deh ingat-ingat lagi, reaksi fisik apa saja yang biasanya muncul saat kepanikan itu terjadi. Yang paling sering adalah jantung berdebar lebih kencang dan tekanan darah jadi lebih cepat.
Dari kejadian sederhana seperti ini, terlihat kan bahwa keadaan emosi (yang panik, merasa cemas, takut nggak keburu waktu) akhirnya berpengaruh terhadap kerja sistem syaraf kita. Ketika kita sedang stres, sistem syaraf otonom akan bereaksi. Dan bila stres tersebut berkepanjangan, akhirnya tubuh menjadi nggak seimbang dan berkembanglah gejala gangguan fisik tersebut.
Dalam kondisi yang lebih berat, psikosomatis bisa menyebabkan si penderita mengalami gejala fisik selama bertahun-tahun karena masalah psikologisnya nggak kunjung sembuh. Ada juga yang mengalami penurunan fungsi gerakan dan sensori tubuh, yang juga berhubungan dengan masalah syaraf (misalnya, jadi susah berjalan atau nggak bisa menelan).
Jadi, gimana dong?!
Tenang, semua hal pasti ada solusinya. Bahkan justru ketenangan itulah yang jadi kunci utama dalam menyembuhkan psikosomatis. Tapi kalau gangguan yang dirasakan memang sudah berat, ada kemungkinan kita memang harus memakai bantuan psikoterapis. Kehadiran para dokter dan ahli syaraf juga penting, karena gejala fisik yang muncul kan juga harus ditangani secara medis.
Itu kalau gejala yang muncul memang sudah parah banget, lho. Tapi, kalau kita rasa masih ringan, nggak perlu mengikuti rangkaian pengobatan seheboh itu, kok. So, coba deh, lakukan langkah berikut:
- Akui bahwa kita memang bukan orang yang sempurna; yang pasti punya kelemahan.
- Cari tahu hal-hal yang sering bikin kita stres atau merisaukan pikiran kita, yang akhirnya menimbulkan masalah fisik.
- Kenali sisi positif diri kita yang bisa dijadikan modal utama dalam menghadapi setiap masalah tersebut.
- Punya masalah? Ya, jangan dipendam, dong. Coba ceritakan setiap masalah ke orang-orang yang kita percaya, entah itu sobat, kakak, adik, atau bahkan orangtua.
artikel ini diambil dari gadis online









cheez…..dia itu emang gag pengen kamu,,atau bahkan,,capapun taw kalo dia suka ma kamu.jadi dia pengennya capapun tawnya dia uda ga cukak agie ma kamu.
cobak besok senen adalah saat yang tepat.pas buber cobak deketin dia…
chez
harus tetep semangat!!!!\wes to percaya!!!lama2 dia akan luluh
makkanyaaaa
jangan nyerah ya…..
kalow kamoe nyerahh…gimana bisa ikatan ttu disatuin lageee….soo…u must fight!!!
Zzzzz
pa itu Psikosomatis?
nah,,makax,,baca artikelQ yg psikosomatis